Blog

My Blog

Selamat datang di Personal Website Muhammad Sabiran, S.Kom

Apa yang Saya Harap Saya Ketahui Sebelum Jadi Full Stack Developer

Belajar & Karier 04 Mar 2025
Apa yang Saya Harap Saya Ketahui Sebelum Jadi Full Stack Developer

Catatan Jujur dari Perjalanan Nyata di Dunia Koding

Saat pertama kali saya mendengar istilah Full Stack Developer, saya pikir ini adalah gelar kerennya seorang developer serba bisa—yang bisa menguasai semuanya dari A sampai Z. Tapi seiring waktu, saya sadar: menjadi full stack itu bukan hanya soal kemampuan teknis, tapi juga soal pengelolaan waktu, konsistensi, dan mentalitas belajar yang panjang.

Di tulisan ini, saya ingin membagikan hal-hal yang andai dulu saya tahu sejak awal, mungkin perjalanan saya akan lebih efisien (dan sedikit lebih waras).


1. Belajar Front-End & Back-End Itu Tidak Harus Bersamaan

Dulu saya mencoba belajar React dan Node.js dalam waktu bersamaan. Hasilnya? Saya kelelahan, bingung, dan akhirnya tidak fokus di keduanya.

Yang lebih baik:
Mulai dari satu sisi dulu—biasanya front-end. Kuasai konsep dasar seperti HTML, CSS, dan JavaScript sebelum terjun ke framework. Setelah itu, baru lanjut belajar back-end dan database secara bertahap.


2. Debugging Itu Skill, Bukan Kutukan

Saya pikir error adalah musuh. Tapi ternyata, debugging adalah bagian inti dari pekerjaan developer. Dulu saya sering frustrasi karena error yang tidak jelas, padahal sekarang saya tahu:

  • Membaca error message adalah separuh solusi

  • Konsol browser dan Postman adalah sahabat sejati

  • Stack Overflow bukan tempat menyerah, tapi tempat belajar


3. Framework Boleh Populer, Tapi Konsep Dasar Lebih Penting

Saya terlalu cepat loncat ke React dan Next.js, padahal JavaScript dasar saya masih bolong.
Akibatnya, saya bisa menggunakan framework tapi tidak memahami cara kerjanya.

Yang benar:
Pelajari DOM, scope, closure, async/await, dan event loop sebelum masuk ke dunia framework. Dengan fondasi yang kuat, belajar teknologi baru jadi lebih mudah.


4. Jangan Terjebak Belajar Tanpa Membangun

Dulu saya terlalu banyak nonton tutorial, sampai-sampai lupa bikin proyek sendiri.

“Build first, then polish.”

Membangun proyek sendiri, walau kecil, jauh lebih berharga daripada menamatkan 10 jam video tutorial. Karena dari sanalah saya belajar error handling, deployment, dan banyak “hal nyata” lainnya.


5. Tooling & Deployment Itu Sama Pentingnya

Saya sempat mengabaikan hal-hal seperti Git, testing, dan deployment karena merasa “nggak penting buat pemula.” Ternyata saya salah.

  • Git & GitHub sangat penting untuk kolaborasi dan dokumentasi

  • Vercel/Netlify memudahkan kita memahami flow deploy modern

  • Testing dasar bikin aplikasi kita jauh lebih stabil


6. Tidak Ada Jalan Pintas, Tapi Ada Jalur Cerdas

Saya pernah merasa tertinggal karena melihat orang lain belajar lebih cepat. Tapi akhirnya saya paham:

  • Setiap orang punya kecepatan belajar yang berbeda

  • Fokus pada progress, bukan perbandingan

  • Konsistensi 1 jam per hari lebih baik dari belajar maraton tapi putus-putus


7. Skill Komunikasi Itu Nilai Tambah yang Besar

Menjadi developer bukan hanya soal menulis kode, tapi juga menjelaskan kode kita—baik ke sesama developer, desainer, atau klien.

Mampu menjelaskan “kenapa kamu memilih solusi ini” adalah soft skill yang sangat dihargai dalam tim.


Penutup: Perjalanan Full Stack Itu Maraton, Bukan Sprint

Kalau saya bisa bicara ke versi saya di masa lalu, saya akan bilang:

“Jangan panik. Nikmati prosesnya. Kamu nggak harus tahu semuanya sekaligus.”

Menjadi Full Stack Developer memang menantang, tapi juga memuaskan. Dan justru dari perjalanan panjang itulah, saya menemukan gaya belajar saya sendiri, mengenal kekuatan dan kelemahan saya, dan yang paling penting—tetap jatuh cinta pada dunia teknologi.