Blog

My Blog

Selamat datang di Personal Website Muhammad Sabiran, S.Kom

Cara Saya Belajar Full Stack Development Otodidak

Belajar & Karier 13 May 2025
Cara Saya Belajar Full Stack Development Otodidak

Saat saya memutuskan untuk terjun ke dunia Full Stack Web Development, saya tidak datang dari latar belakang IT. Tidak ada gelar komputer. Tidak ikut bootcamp. Saya hanya punya satu hal: niat belajar otodidak. Dan jujur, perjalanan ini tidak selalu mudah—tapi sangat mungkin dilakukan, bahkan tanpa biaya besar.

Di blog ini, saya ingin membagikan proses nyata yang saya jalani untuk menjadi full stack developer secara otodidak. Bukan metode ajaib, tapi langkah-langkah nyata yang bisa kamu tiru, sesuaikan, dan kembangkan sendiri.


1. Mulai dari Dasar: HTML, CSS, dan JavaScript

Saya memulai dari dasar, bukan framework. Saya belajar bagaimana membuat halaman web sederhana dengan HTML dan CSS, lalu menambahkan interaktivitas dengan JavaScript.

Platform andalan saya waktu itu:

  • freeCodeCamp

  • MDN Web Docs

  • Channel YouTube seperti Web Dev Simplified & The Net Ninja

Tips: Jangan buru-buru ke React atau Node sebelum paham JavaScript dengan baik.


2. Bangun Proyek Mini, Bukan Hanya Ikuti Tutorial

Setelah menyelesaikan beberapa kursus, saya mulai membangun proyek mini:

  • To-do list

  • Kalkulator

  • Aplikasi catatan

Proyek-proyek kecil ini jadi laboratorium saya untuk eksperimen logika, DOM manipulation, dan style. Saat stuck, saya belajar lebih banyak daripada saat semuanya berjalan mulus.

Pelajaran: Dari bug-lah kita benar-benar belajar.


3. Pelajari Git dan GitHub Sejak Awal

Saya telat belajar Git, dan itu saya sesali. Karena itu sekarang saya sangat menyarankan siapa pun untuk segera menggunakan Git untuk version control. GitHub juga berguna sebagai portofolio publik.


4. Masuk ke Back-End: Node.js dan Express

Setelah merasa cukup percaya diri dengan front-end, saya mulai belajar server-side programming. Saya memilih Node.js karena sudah familiar dengan JavaScript.

Materi yang saya pelajari:

  • Routing & middleware di Express

  • REST API

  • CRUD dengan MongoDB

  • Autentikasi (JWT & session)


5. Database: MongoDB Dulu, PostgreSQL Kemudian

Saya belajar MongoDB terlebih dahulu karena lebih mudah dan cocok untuk proyek awal. Tapi setelah beberapa waktu, saya juga mulai belajar PostgreSQL untuk struktur data yang lebih kompleks.

Tips: Tidak perlu langsung menguasai dua-duanya. Kuasai satu dulu, lalu lanjut.


6. Bangun Proyek Full Stack Sendiri

Ini momen penting dalam proses belajar saya: membangun aplikasi end-to-end, dari front-end hingga back-end. Misalnya:

  • Aplikasi blog sederhana

  • Sistem login & register

  • Dashboard data

Saya deploy ke Vercel atau Render agar bisa diakses online.


7. Ikut Komunitas & Konsumsi Konten Berkualitas

Saya aktif di:

  • Discord komunitas dev

  • Twitter (X) tech circle

  • Baca artikel di Dev.to & Medium

Dan tentu saja, saya juga mulai terbiasa bertanya di Stack Overflow atau forum saat kehabisan akal.


8. Belajar Konsisten, Bukan Ngebut

Dulu saya sempat burnout karena terlalu ingin cepat jago. Sekarang saya tahu, kuncinya ada di belajar rutin, bukan cepat. Bahkan 1 jam per hari pun cukup asal konsisten.


Penutup

Belajar Full Stack Development secara otodidak itu mungkin. Kamu tidak harus kuliah teknik informatika atau ikut bootcamp mahal. Tapi kamu harus punya komitmen, rasa ingin tahu tinggi, dan mental tahan banting saat bug datang.

Kalau saya bisa mulai dari nol, kamu juga bisa.

Dan kalau kamu sedang dalam perjalanan yang sama, tetap semangat. Satu baris kode per hari pun sudah langkah ke depan.