Saat saya memutuskan untuk terjun ke dunia Full Stack Web Development, saya tidak datang dari latar belakang IT. Tidak ada gelar komputer. Tidak ikut bootcamp. Saya hanya punya satu hal: niat belajar otodidak. Dan jujur, perjalanan ini tidak selalu mudah—tapi sangat mungkin dilakukan, bahkan tanpa biaya besar.
Di blog ini, saya ingin membagikan proses nyata yang saya jalani untuk menjadi full stack developer secara otodidak. Bukan metode ajaib, tapi langkah-langkah nyata yang bisa kamu tiru, sesuaikan, dan kembangkan sendiri.
1. Mulai dari Dasar: HTML, CSS, dan JavaScript
Saya memulai dari dasar, bukan framework. Saya belajar bagaimana membuat halaman web sederhana dengan HTML dan CSS, lalu menambahkan interaktivitas dengan JavaScript.
Platform andalan saya waktu itu:
-
freeCodeCamp
-
MDN Web Docs
-
Channel YouTube seperti Web Dev Simplified & The Net Ninja
Tips: Jangan buru-buru ke React atau Node sebelum paham JavaScript dengan baik.
2. Bangun Proyek Mini, Bukan Hanya Ikuti Tutorial
Setelah menyelesaikan beberapa kursus, saya mulai membangun proyek mini:
-
To-do list
-
Kalkulator
-
Aplikasi catatan
Proyek-proyek kecil ini jadi laboratorium saya untuk eksperimen logika, DOM manipulation, dan style. Saat stuck, saya belajar lebih banyak daripada saat semuanya berjalan mulus.
Pelajaran: Dari bug-lah kita benar-benar belajar.
3. Pelajari Git dan GitHub Sejak Awal
Saya telat belajar Git, dan itu saya sesali. Karena itu sekarang saya sangat menyarankan siapa pun untuk segera menggunakan Git untuk version control. GitHub juga berguna sebagai portofolio publik.
4. Masuk ke Back-End: Node.js dan Express
Setelah merasa cukup percaya diri dengan front-end, saya mulai belajar server-side programming. Saya memilih Node.js karena sudah familiar dengan JavaScript.
Materi yang saya pelajari:
-
Routing & middleware di Express
-
REST API
-
CRUD dengan MongoDB
-
Autentikasi (JWT & session)
5. Database: MongoDB Dulu, PostgreSQL Kemudian
Saya belajar MongoDB terlebih dahulu karena lebih mudah dan cocok untuk proyek awal. Tapi setelah beberapa waktu, saya juga mulai belajar PostgreSQL untuk struktur data yang lebih kompleks.
Tips: Tidak perlu langsung menguasai dua-duanya. Kuasai satu dulu, lalu lanjut.
6. Bangun Proyek Full Stack Sendiri
Ini momen penting dalam proses belajar saya: membangun aplikasi end-to-end, dari front-end hingga back-end. Misalnya:
-
Aplikasi blog sederhana
-
Sistem login & register
-
Dashboard data
Saya deploy ke Vercel atau Render agar bisa diakses online.
7. Ikut Komunitas & Konsumsi Konten Berkualitas
Saya aktif di:
-
Discord komunitas dev
-
Twitter (X) tech circle
-
Baca artikel di Dev.to & Medium
Dan tentu saja, saya juga mulai terbiasa bertanya di Stack Overflow atau forum saat kehabisan akal.
8. Belajar Konsisten, Bukan Ngebut
Dulu saya sempat burnout karena terlalu ingin cepat jago. Sekarang saya tahu, kuncinya ada di belajar rutin, bukan cepat. Bahkan 1 jam per hari pun cukup asal konsisten.
Penutup
Belajar Full Stack Development secara otodidak itu mungkin. Kamu tidak harus kuliah teknik informatika atau ikut bootcamp mahal. Tapi kamu harus punya komitmen, rasa ingin tahu tinggi, dan mental tahan banting saat bug datang.
Kalau saya bisa mulai dari nol, kamu juga bisa.
Dan kalau kamu sedang dalam perjalanan yang sama, tetap semangat. Satu baris kode per hari pun sudah langkah ke depan.